"Simplicity is an art! It is an art of living higher... it is the opposite of its vice.. elegant is opposite the crude."
"Out of clutter, find simplicity." ~Albert Einstein
"Less is More." ~Mies van Der Rohe
"Simplicity, carried to an extreme, become elegance." ~John Franklin
The best things in life are nearest: Breath in your nostrils, light in your eyes, flowers at your feet, duties at your hand, the path of right just before you. Then do not grasp at the stars, but do life's plain, common work as it comes, certain that daily duties and daily bread are the sweetest things in life. ~Robert Louis Stevenson
Live simply that others might simply live. ~Elizabeth Seton
As you simplify your life, the laws of the universe will be simpler; solitude will not be solitude, poverty will not be poverty, nor weakness weakness. ~Henry David Thoreau
We don't need to increase our goods nearly as much as we need to scale down our wants. Not wanting something is as good as possessing it. ~Donald Horban
“Simplicity is the final achievement. After one has played a vast quantity of notes and more notes, it is simplicity that emerges as the crowning reward of art.” ~Frederic Chopin
“Simplicity is indeed often the sign of truth and a criterion of beauty.”
Ya, kita semua tentu merasa kehilangan Gus Dur. Berbeda dengan banyak tokoh besar lain, kita mengenal dan mengenang Gus Dur karena sikapnya yang tidak “Ja-im”, tidak banyak basa-basi, apa adanya, transparan. Selain visioner dan kegigihannya mendobrak, bisa jadi sikapnya yang sederhana dan jujur-lah yang membuat beliau menonjol dan menjadikan kita begitu merespek beliau. Dari kesan orang-orang yang dekat dengan beliau, kita bisa melihat bahwa Gus Dur nyata-nyata bukan sekedar berkata jujur, tapi juga mempraktekkan kejujurannya secara konsisten. Mungkin untuk selama-lamanya kita akan mengingat pesan beliau: “Harus jujur...”
Kita sering menganggap jujur adalah sebuah atribut, salah satu aspek kepribadian. Banyak lembaga dan organisasi yang melaksanakan assessment, memberi instruksi pada kami untuk secara mendalam ‘memeriksa’ kejujuran karyawan atau calon karyawannya. Sebagai salah satu aspek kepribadian, kita bisa mengecek kejujuran dengan mengkaitkannya pada tidak bersedia atau tidak pernahnya seseorang melakukan korupsi, kecurangan dalam pekerjaannya. Pertanyaannya, apakah hanya sebatas lingkup itu saja yang dimaksudkan dengan “kejujuran”?
Mungkin sejak kanak-kanak sampai hari ini, sudah ratusan bahkan ribuan kali kita mendengar nasihat untuk bersikap dan bertindak jujur. Pesan ini bisa jadi terlalu sederhana dan bila kita tidak hati-hati akan lewat begitu saja, terlupakan. Namun, bila kita mau hening sejenak dan memikirkannya, nasihat ini bisa jadi akan mengubah seluruh pandangan dan bahkan makna hidup kita. Bukankah kita akan merasa lega luar biasa bila bisa berkata jujur? Bukankah kita menyadari bahwa sikap jujur terkadang mengandung kekuatan internal yang menyebabkan kita tidak tergoyahkan bahkan bisa nekad dan mempunyai sikap ‘nothing to loose’? Bukankah kita baru bisa menepuk dada, menerima diri, mengatasi frustrasi, menghargai anugerah hidup saat kita jujur pada diri sendiri, lingkungan, organisasi dan bangsa?
Kebebasan pers yang kita nikmati sekarang, belakangan tak jarang membuat kita terkaget-kaget. Selain terkuaknya berbagai isu dan kontroversi, kita juga disajikan pada ‘reality show’ yang amat menarik, yaitu bagaimana seseorang berespon dan menampilkan citra dirinya. Ada yang bersujud ketika memperoleh jabatan menteri. Ada nenek lugu yang terpana karena tiba-tiba masuk tivi, saat didakwa mencuri 3 biji kopi. Ada yang langsung menghindar saat dihampiri wartawan atau bersikap “Ja-Im” alias “Jaga Image” saat di depan kamera. Ada juga yang begitu berang saat dipersalahkan, terlepas dari apakah kesalahan tersebut dibuatnya secara sengaja ataupun tidak, sesuai prosedur atau melanggar prosedur, fitnah atau sentimen. Bila kita di masa lalu tidak punya banyak kesempatan untuk menelaah dinamika kepribadian seseorang, saat sekarang kita bisa takjub melihat kompleksitasnya.
Transparansi di media, membuat kita jadi mendapat sajian baru yang mengasyikkan, di samping infotainment dan sinetron. Dengan alasan mempertahankan prinsip, kita kerap bisa menyimak sikap ‘keukeuh’ individu. Banyak orang membela diri, bersitegang, bahkan bersumpah, sampai-sampai menjadi kabur batasan antara individualitas, profesionalitas dan tugasnya.Ya, sejak jaman dahulu pun para pahlawan kita siap dipenjara, diasingkan dan disiksa untuk memperjuangkan prinsipnya. Lalu, apa bedanya kekerashatian pahlawan-pahlawan kita dengan individu yang belakangan ini kita lihat ngotot mempertahankan tindakannya? Bagaimana kita mustinya bersikap di jaman yang segala sesuatunya serba terbuka seperti ini?
Ketika seorang teman fesbuk menegur bahwa kami belum pernah mengupas mengenai Goal-setting alias penetapan sasaran, saya berusaha melakukan riset dari pengalaman kerjasama kami dengan beberapa klien. Ternyata, beberapa perusahaan yang saya kenal baik dan sangat sukses, cukup tergagap ketika dalam sebuah ‘workshop’ perlu mengkonkritkan sasaran tahun ke depan mereka. Bahkan, ada direktur perusahaan yang bersikukuh untuk mendengar dahulu ‘angka’ target yang diusulkan anak buah untuk menetapkan target tahun ke depan. Beliau mungkin tidak menyadari perlunya dasar perhitungan yang dikembangkan dirinya sebagai pimpinan perusahaan, untuk mendapatkan angka estimasi yang cukup akurat, ‘achievable’, tetapi juga menantang bagi anak buahnya.
Di jaman sekarang kita tidak bisa hanya menetapkan target keuntungan atau angka penjualan saja, karena kesuksesan perusahaan sangat tergantung pada pencanggihan proses bisnis, pelayanan pelanggan dan pembelajaran manusianya. Di sinilah letak keberbedaan seorang pemimpin. Pemimpin yang efektif mampu mengatur ambisinya untuk menentukan titik akhir dari lomba di mana timnya berperan serta. Tugasnya adalah menggambarkan “point mark” yang spesifik dan terukur dan dimengerti oleh seluruh anggotanya, bahkan dijadikan obsesi oleh anggota timnya. Nyatanya tidak mudah bagi seorang pemimpin untuk menggambarkan sasaran yang tepat. Baru akhir-akhir ini kita melihat ada menteri yang berani dan jelas-jelas mencanangkan bahwa di tahun 2012, negara kita menjadi negara perikanan.
Bila sasaran sedemikian pentingnya bagi kinerja, bagaimana mungkin banyak organisasi bisa berjalan tanpa sasaran yang yang jelas? Dalam sebuah pertemuan dengan sekumpulan board of directors yang menginginkan dilaksanakannya pengukuran kinerja obyektif, beberapa direktur saling menatap ketika kami sampai pada tugas untuk menetapkan sasaran yang konkrit dan mendetil. “Kalau tidak dibuat, bagaimana mungkin kita bisa ‘menghitung’ kinerja?”, demikian komentar kami. Ternyata banyak pemimpin, yang pandai-pandai sekalipun, segan untuk mencanangkan sasaran secara konkrit dan mendetil. Di satu sisi, mempublikasikan sasaran ini akan mendorong anak buah untuk mengejar sasarannya. Sebaliknya, bila sasaran tidak tercapai, hasilnya pun akan serta-merta menampar muka kita. Ketakutan akan kegagalan inikah penyebab tidak jelasnya sasaran selama ini? Atau semata kurangnya ambisi untuk maju? Atau apakah memang falsafah hidup pemimpin yang memang berkehendak untuk sekedar mengalir sejalan dengan waktu dan situasi?
Teman baik saya yang akan di interviu untuk sebuah kesempatan kerja baru, mendesak saya untuk memberi contekan dan kiat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pewawancara. “Kalau dijawab apa adanya, bisa-bisa kelemahan saya dipakai sebagai alasan untuk menolak saya. Kalau saya jawab yang bagus-bagus, juga pasti dicurigai berbohong”, begitu keluhannya. Saya yang selalu berada di tengah situasi ini, benar-benar speechless.
Di satu pihak kita sangat memahami bahwa seseorang pasti ingin lolos seleksi. Di lain pihak, kita bisa merasakan beratnya upaya organisasi untuk menemukan kecocokan pribadi dan kompetensi seseorang dengan jabatan yang akan diisi. Kita semua tahu istilah ‘putting the right man in the right place’, namun kita pun sangat menyadari bahwa keadaan yang ideal ini sulit dicapai. Sebagai pewawancara, kita sangat terbantu bila individu berani untuk transparan, terbuka. Bagi orang yang diwawancara, tidak ada pilihan lain yang lebih baik, kecuali ‘showing your color’ alias menunjukkan karakter asli diri Anda. Dosa besar dalam situasi seleksi adalah kalau dalam waktu evaluasi yang begitu singkat, justru individu tidak berkesempatan menampilkan keasliannya sehingga si pewawancara pun tidak bisa menangkap kekuatannya. ‘Be Yourself’ bagaimana yang perlu kita tampilkan?
Di jaman sekarang tampaknya kita semakin terbiasa dengan keadaan ‘mengambang’. Banyak perusahaan terus berjalan tanpa adanya keputusan yang tegas mengenai strategi perusahaan. Keputusan kerap digantung, banyak kasus tidak tuntas sampai ke ujung, kebijakan yang tidak jelas dibiarkan terus diinterpretasikan secara berbeda. Kita juga bisa kerap melihat standar ganda, mengenai kebenaran , kejujurandanprofesionalitas. Bahkan, komitmen berkeluarga pun kini kerap ‘digantung’, alias setengah kumpul kebo.
Banyak orang mengatakan bahwa dunia memang sudah berubah. Orang sudah menjadi multi-taskertulen,tidak mungkin fokus, tidak mungkin mengerjakan suatu proses benar-benar urut sesuai S.O.P ( standard operating procedure). Lalu, apakah kemudian semua hal menjadi relatif? Semua serba ‘tergantung situasi?’. Padahal, begitu kita menyerahkan pilihan solusi tergantung situasi, kemungkinan besar ‘action’ solusi tertahan dan bisa jadi tidak dilaksanakan. Bila dalam banyak situasi, kita beramai-ramai tidak berani mengambil sikap, bayangkan bagaimana masyarakat kita bisa berkembang? Kita harus sadar bahwa dalammengambil keputusan itu pasti ada resiko yang harus ditanggung, ongkos yang harus dibayar bahkan kadang-kadang berupa kesulitan yang harus diderita. Tampaknya tidak ada jalan lain, bila kita memang mau bertransformasi. Namun, mengapa kebanyakankita seolah loyo, tidak bertenagamengatasi situasi?
Meski kita semua sepakat bahwa harta dan kedudukan bukan jalan satu-satunya untuk mendapatkan respek dari orang lain, kita juga semakin melihat bahwa materi memang sudah jadi tolok ukur untuk banyak situasi. Seakan menjadi sebuah pelecehan sosial dan psikologis atas harga diri kita, bila kita tidak mengikuti arus gaya hidup di masyarakat. “Kan tidak enak loh, kalau semua teman pakai tas puluhan juta, sementara kita satu-satunya yang tidak”, ungkap seorang ibu pejabat. Kita juga kerap mendengar pegawai berkomentar:”Nyatanya memang tidak cukup ya mengandalkan gaji saja. Kita memang terpaksa mencari obyekan dari sumber lain.” Situasinya sekarang, kita bisa menyaksikan betapa orang bisa lebih takut miskin, lebih mati-matian menimbun harta, menjaga kedudukan dan mengejar pangkat, ketimbang memperjuangkan hati nurani, kekayaan jiwa, bahkan kepentingan negara.
Setiap kita bisa saja terjebak dalam situasi dilematis untuk menjaga “harga diri” ini. Pertanyaannya: Maukah Anda dibayar untuk menjelekkan nama orang lain? Maukah Anda menerima uang bila nama keluarga dipermalukan? Maukah Anda melanggar kode etik profesi demi uang? Di sisi lain, kita juga bisa melihat dan bertanya-tanya: Demi apa prajurit kita berjuang mempertahankan perbatasan Indonesia dan memperjuangkan Timor Timur sampai kehilangan anggota tubuhnya, bahkan gugur di medan laga? Mengapa ada pegawai yang jujur sampai akhir karirnya dan membiarkan anak istrinya hidup dengan uang belanja yang pas-pasan? Mengapa ada orang tidak takut dipenjara, ditangkap, kalau yakin tidak salah? Mengapa ada orang yang tetap pada pendiriannya dan kukuh akan keputusan jabatannya walaupun diiming-imingi segelontor uang? Apa beda orang seperti Nelson Mandela dengan kita-kita yang biasa-biasa ini?
Ini adalah masa-masa sulit. Angka pengangguran bertambah. Lalu lintas semakin tidak kondusif. Polusi semakin pekat. Banjir mengancam. Otoritas tidak bisa dijadikan pegangan. Kondisi ekonomi sulit diprediksi. Kebenaran semakin tidak terang. Ketidaksiapan menghadapi bencana, membuat kita menyaksikan semakin banyak orang menderita. Ini benar benar ‘crunch time’ . Banyak orang stres. Seorang ahli manajemen, Gerben A. van Kleef menyatakan bahwa ‘mental fatique’ atau kelelahan mental seorang pemimpin dalam masa-masa sulit, sering justru makin menyebabkan terperosoknya semangat orang di sekitar kita, anak buah atau bawahan lebih dalam.
Sekarang memang saatnya menentukan sikap dan tindakan. Inginkah kita terus meratap, menyalak dan meraung? Seorang teman, dalam keadaan Negara yang galau ini malah mengirimkan pesan teks ke saya: “Enjoy your moments of truth”. Kalimat sederhana itu seketika membuat saya tergugah. “Bukankah kita masih bisa mensyukuri banyak hal, mengupayakan banyak hal, mempertimbangkan pelanggan yang menunggu servis kita, memuaskan ‘stakeholders’ kita, membangun generasi muda kita, melakukan “coaching”, dan begitu banyak pe –er di depan mata yang tidak bisa kita hindari? Kita pun bisa bertanya sendiri : “Apa yang kita dapatkan dengan bersungut-sungut? “,“Apa dampaknya kalau kita terus meratap dan meraung?”. “Sadarkah kita bahwa emosi menular dan anak buah atau bawahan bisa jadi ketularan turun semangat?” Seorang atasan atau pemimpin yang baik, perlu memiliki kemampuan menghidupkan semangat tim dan bawahannya dalam keadaan segalau dan sekritis apapun. Ingat bahwa emosi orang di sekitar kita adalah tanggung jawab kita juga.
Saya terinspirasi oleh Profesor Arief Rachman, begawan pendidikan Indonesia. Dalam suatu acara di sebuah stasiun televisi baru-baru ini, beliau dengan cantik menyebutkan “Otak dan Watak” sebagai kriteria pejabat atau eksekutif. Dalam audisi menteri baru-baru ini, sering kita dengar ulasan mengenai pejabat-pejabat yang dikenal ‘expert’ di bidangnya. Bila ditinjau sekelebatan, segera saja kita akan terjebak pada kecerdasan, juga fenomena IQ (intelligent Quotient). Singkat kata, disimpulkan bahwa pejabat, eksekutif ataupun pemimpin yang ber -IQ tinggi adalah expert di bidangnya. Dengan IQ tinggi ia diprediksi mampu menangani masalah pada satuan kerja yang dipimpinnya. Cukupkah itu?
Kita sama-sama menyadari bahwa dalam mengurus sebuah departemen, direktorat ataupun divisi di masa sekarang sudah tidak lagi kita bisa mengandalkan kapasitas birokratis dan politis saja. SOP (standard operating Procedure) saja, jelas-jelas tidak cukup. Masalah-masalah yang dihadapi saat ini sering tidak masuk akal, bahkan tidak ada dalam pembahasan kasus di universitas Harvard sekalipun. Etos kerja, sorotan dunia, perubahan, ke’bawel’an media serta sikap kritis masyarakat, otomatis sudah menjadi barometer kinerja kita, sehingga tuntutan ekspertis, kepintaran dan kecermatan tidak lagi bisa mengandalkan kecerdasan biasa.
Membaca headline Kompas, 21 oktober: “Indonesia Melangkah Maju”, seketika kita serasa terpacu, ada rasa bangga dan bahkan terasa energi ingin ikut maju. Namun, saat melanjutkan dengan subjudul yang bertuliskan ‘memberantas kemiskinan……dst”, kita pun langsung teringat dan membenarkan dalam hati realita dihadapan mata, mengenai angka kemiskinan, tingkat korupsi dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menyurutkan harapan.
Pasang surutnya harapan bisa sangat internal dan individual, sebagaimana negatif-positifnya kita memandang dunia. Namun tidak dipungkiri bahwa energi kita juga dipengaruhi oleh keadaan serta orang-orang di sekitar kita. Kita tentu pernah mengenal, seseorang yang bila ia memasuki ruangan, ruangan terasa hidup. Bila ia mengirimkan email atau sms, kita bisa merasakan bobot kekuatan di dalamnya. Kemampuan individu untuk membangkitkan energi dari orang di sekitarnya ini, sering terlupakan dalam aspek kepemimpinan, padahal kekuatan ini sangat diperlukan untuk mendorong dan menjaga stamina dan harapan kelompok dari hari ke hari. Bayangkan seorang pimpinan kelompok yang bertugas membawa kelompoknya mengarungi perjalanan yang sulit dan membahayakan. Tentu saja ia harus selalu menemukan jalan sambil menjaga semangat kelompoknya.
Dalam suatu sesi ‘brainstorming’ di sebuah kelas pelatihan, peserta segera mengeluarkan ide-ide dan pendapatnya untuk membahas cara-cara penanggulangan ‘chaos’. Selang beberapa lama, seseorang bertanya: “Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ‘chaos’?”. Segera semua orang menengok ke arahnya. Ada yang melontarkan pandangan aneh, seolah mempertanyakan “Kok, tidak mengerti istilah yang begitu populer?”. Ada juga yang mencibir, seolah bertanya, “Dari tadi ke mana saja...”. Tapi, ternyata, tidak seorang pun kemudian bisa dengan lancar mendefinisikan arti kata itu dengan tepat dan memuaskan. Ternyata, dalam banyak situasi, orang sering sudah menyambar dan berkomentar terhadap suatu isu atau masalah tanpa mencocokkan asumsi, menyamakan persepsi mengenai istilah-istilah yang sedang dibicarakan.
Mendefinisikan kata, apalagi sebuah problem, ternyata tidak mudah. Padahal, banyak ahli yang mengatakan bahwa begitu kita bisa mendefinisikan sebuah problem dengan tepat, kita sudah 50% menemukan solusinya.Tidak heran bila Einstein mengatakan: “ if I had one hour to save the world I would spend fifty-five minutes defining the problem and only five minutes finding the solution”. Sayangnya, dalam masyarakat kita dan kehidupan yang serba mau cepat ini, kita tidak banyak melihat contoh-contoh pendefinisian problem dengan cermat. Banyak masalah yang mengambang tanpa penyelesaian, karena tidak terfokusnya permasalahan. Misalnya saja, mengapa Situ Gintung jebol? Situ Gintung itu sebuah apa? Bagaimana dibuatnya? Bagaimana pemeliharaannya? Apa ancamannya? Dalam pemberitaan, kita pun kadang sulit mencerna, kunci permasalahan dari suatu situasi. Padahal, pemahaman terhadap inti masalah ini sebenarnya perlu berkembang bukan saja dibenak para ahli, tapi juga di benak masyarakat yang sudah bersekolah, sehingga intelektualitasnya bisa membawanya ke arah solusi lingkungan juga. Dengan tidak jelasnya permasalahan, masyarakat yang sadar pun bisa hanya diam saja, ketika menyaksikan pembahasan masalah besar yang pemecahannya melenceng jauh dari persoalan semula sehingga membawa keluaran yang keluar jalur. Bukankah hal ini sangat membahayakan?