Homepage Home About Blog Gallery Contact Guestbook
 
 
 
My Involvements
My Simple Thoughts
Login Form
Who's Online
 

Simplicity in Life

 

"The simplest things are often the truest."

"Simplicity is the nature of great souls."

"Simplicity is an art! It is an art of living higher... it is the opposite of its vice.. elegant is opposite the crude."

"Out of clutter, find simplicity."
~Albert Einstein

"Less is More."
~Mies van Der Rohe

"Simplicity, carried to an extreme, become elegance."
~John Franklin

The best things in life are nearest: Breath in your nostrils, light in your eyes, flowers at your feet, duties at your hand, the path of right just before you. Then do not grasp at the stars, but do life's plain, common work as it comes, certain that daily duties and daily bread are the sweetest things in life.
~Robert Louis Stevenson

Live simply that others might simply live.
~Elizabeth Seton

As you simplify your life, the laws of the universe will be simpler; solitude will not be solitude, poverty will not be poverty, nor weakness weakness.
~Henry David Thoreau

We don't need to increase our goods nearly as much as we need to scale down our wants. Not wanting something is as good as possessing it.
~Donald Horban

“Simplicity is the final achievement. After one has played a vast quantity of notes and more notes, it is simplicity that emerges as the crowning reward of art.”
~Frederic Chopin

“Simplicity is indeed often the sign of truth and a criterion of beauty.”
 

 
My Simple Thoughts
Ilmu

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Belum selesai isu pelaksanaan ujian negara yang dianggap sebagai momok bagi sekelompok orang di dunia pendidikan, kita kembali tertampar dengan mencuatnya berita plagiat dalam penyusunan skripsi, tesis, bahkan disertasi doktor. Tugas akhir yang biasanya memakan pemikiran dan jerih payah berbulan-bulan, memaksa kita untuk membedah puluhan buku dan teori, senantiasa dipandang sebagai ‘masterpiece’-nya seorang mahasiswa, tidak lagi menjadi ‘sakral’ dan dengan mudahnya bisa diupahkan ke orang lain. Hal yang lebih mencengangkan, si “pemberi jasa” pembuatan skripsi dengan terang-terangan beriklan di koran-koran, seakan sah-sah saja tindakan yang dilakukannya. Ada apa sebenarnya dengan pengembangan ilmu di negara kita, sehingga pelecehan, penyelewengan seolah menjadi marak dan dianggap membudaya?

Tak pelak, kita pasti tergelitik untuk bertanya, apakah kita memang punya banyak alasan untuk berada jauh dari obyektivitas dan pengembangan ilmu? Bukankah universitas kita yang sudah berdiri sejak jaman Belanda juga punya reputasi yang tidak kalah dengan negara lain? Bukankah banyak sekali ahli, peneliti, insinyur, dokter, ekonom ternama juga keluaran universitas negeri kita? Bukankah banyak karya terbaik dan bermanfaat dihasilkan, bahkan insinyur  Departemen Pekerjaan Umum kita juga sudah meluncurkan alat penyaring air kotor praktis yang bisa digunakan para korban banjir dari manfaat ilmunya? Dengan kemajuan teknologi yang memungkinkan kita untuk semakin mudah mengakses teori, riset, informasi, bukankah semestinya pengembangan ilmu semakin pesat dan bukan sebaliknya semakin tumpul, bahkan kotor? Apa benar ‘mindset’ intelek kita sedang bermasalah?

Kita memang bisa melihat kemajuan dan pengembangan ilmu dari bagaimana aplikasi nyatanya dalam masyarakat. Namun, pengaruh dunia pendidikan juga bisa kita teropong dari sikap terhadap masalah, cara berpikir, cara menganalisis, bahkan cara bicara. Bila kita menyaksikan cara orang bertanya, tanpa diikuti pengambilan kesimpulan yang bermutu, cara orang berkomentar yang tidak didukung data tanpa rasa bersalah, kita memang perlu prihatin dengan kurang berpengaruhnya dunia pendidikan dalam perkembangan sikap intelek di masyarakat kita.

Read more...
 
Motivasi

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Banyak orang setuju bahwa motivasi itu bagai misteri. Kita pun sering tidak mengenal penuh motivasi dalam diri kita. Apa yang membuat saya bersemangat? Apa yang membuat saya melompat dari tidur saya di pagi hari. Apa yang membuat saya ceria mengerjakan sesuatu walaupun badan lelah. Beberapa teori utama yang membahas kebutuhan manusia juga seringkali bisa tidak relevan dengan motivasi orang bekerja di masa sekarang. Betulkah untuk merangsang para salesman diperlukan ‘upah komisi’ tok? Apakah seorang salesman tidak punya keinginan berprestasi sendiri, menghargai dirinya serta  mencintai pekerjaannya? Betulkah aktualisasi diri tergolong kebutuhan yang terakhir hirarkinya dan baru muncul sesudah kebutuhan lain terpenuhi? Apakah tidak ada diantara kita, orang yang sangat bersemangat melakukan sesuatu atau menjual produk tanpa terlalu hitung-hitungan mengenai berapa imbalan yang ia dapat? Bukankah kita melihat bahwa banyak sekali orang, demi ‘passion’-nya juga tidak menunggu “sandang-pangan-papan”-nya cukup, untuk menghasilkan karya-karya yang hebat? Bukankah para anggota pasukan khusus tentara juga tidak menunggu jaminan kesejahteraan sebelum berjuang dengan motivasi  ‘all out’ membela negara? Sebaliknya, kita juga banyak melihat gejala di mana individu yang mendapatkan gaji yang relatif ‘cukup’ malah tidak tergerak mengejar target. Dengan kata lain, berhenti di kepuasan fisik  dan rasa aman saja.

Memang ada orang dan tim yang tidak mementingkan untuk menghidupkan motivasinya secara optimal, bahkan mungkin tidak merasa bahwa motivasi itu penting. Namun, dalam tuntutan situasi seperti sekarang, sulit dibayangkan bila individu, tim dan perusahaan, hanya mengandalkan kekuatan pikir dan fisik saja. Kreativitas dan value adding mustahil berkembang jika tidak didukung motivasi individu dalam kelompok atau organisasi. Bahkan, nilai motivasi bisa jadi lebih besar pengaruhnya terhadap keberhasilan, daripada nilai kompetensi lainnya. Mungkin ini sebabnya instansi pemerintah pun mulai memperhitungkan motivasi pegawai negeri dalam pengembangan sumber dayanya.

Read more...
 
Misi

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Seorang wanita sukses yang hampir memasuki usia 80 tahun, ditanya teman-temannya, apakah beliau akan membuat pesta besar untuk merayakan ulang tahunnya. Dengan penuh senyum ia menjawab bahwa dirinya ingin ‘cari duit’ saja. Maksudnya, dalam rangka ulang tahun, ia akan membuat acara penggalangan dana. Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk membangun gedung laboratorium, asrama untuk anak jalanan atau kegiatan sejenisnya. Dalam usia yang sudah lanjut, beliau masih memikirkan cara membangun dan membuat sesuatu. Saat ditanya apa yang menjadi gregetnya, ia berkomentar,“Sederhana saja. Saya melaksanakan misi suami yang sejak dulu ingin membantu orang miskin, memajukan kesehatan dan pendidikan.” Ternyata kekuatan kehendak suaminya yang sudah meninggal puluhan tahun lalu membuat wanita ini bertujuan dan mampu memaknai hidupnya dengan upaya-upaya positif, berarti dan berguna.

Seorang Psikiater, Victor Frankl, mengemukakan pentingnya menyadari dan menyuarakan ‘purpose of life’ individu. Tidak hanya sekedar untuk diri pribadinya, namun juga pada keluarga, anak, cucu, karyawan, anggota kelompok bahkan rakyatnya. Frankl juga menekankan bahwa manusia punya kebebasan penuh untuk menyikapi situasi yang dihadapinya. Apakah itu kegelapan, tantangan, godaan, kenikmatan, batu besar ataupun kerikil. Pada akhirnya, manusia memang bisa mengisi hidupnya dengan ‘good stuff’ atau ‘bad stuff’ dan menjadikan dirinya pribadi yang terhormat atau tidak terhormat. Saya jadi teringat cerita ayah saya tentang pengalamannya berada di tahanan Belanda. Di sana ada seorang temannya yang punya kebiasaan berbagi. Apapun makanan yang ditemukan, bahkan telur bebek yang sulit dibagi sekali pun, akan di-share dengan seluruh anggota kelompok. Ini membuktikan bahwa dalam keadaan sulit dan ‘survival’ sekali pun, seseorang tetap punya pilihan untuk menjadi manusia yang bermutu atau tidak. Tentu saja ini sulit terjadi jika beliau tidak punya ‘misi’ yang membuat dirinya dengan mudah menentukan langkah dan mengambil sikap.

Di jaman modern ini, kita lihat semakin banyak individu berkeyakinan bahwa kebahagiaannya datang dari kekayaan materi. Banyak orang sudah tidak bisa membedakan halal tidak halalnya mata pencaharian, dibudakkan harta, lupa batas antara kebutuhan dan keserakahan, bahkan tidak peduli membangun karakter pribadi. Buntut-buntutnya, setelah kekayaan di tangan pun, hidup tetap terasa pahit dan tidak berarti. Banyak orang yang sudah ‘punya segalanya’, namun tidak bahagia dan berusaha mencari ketenangan melalui upaya penggalangan kegiatan religius yang tidak berujung. Bagaimana pun, kesibukan dan tantangan yang terus menerus hadir di depan mata, memang bisa membuat kita tidak punya lagi banyak waktu untuk melakukan refleksi diri. Jika kita ingin hidup kita berarti, tampaknya kita harus memaksa diri untuk diam sejenak, memikirkan kembali, dan memahami dengan jelas apa misi hidup kita.

Read more...
 
Terobosan

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Di jaman kompetitif begini, siapa pun pasti setuju bahwa mereka yang tidak kuat berinovasi, cepat atau lambat akan mati. Hasil penelitian yang dilakukan oleh kantor konsultan besar, McKinsey, menunjukkan bahwa 70 persen eksekutif top setuju bahwa inovasi termasuk salah satu dari tiga prioritas pengembangan mereka yang terpenting.  Namun, di tengah giat-giatnya perusahaan menyelenggarakan raker di awal tahun begini, kita bisa menilai sendiri, apakah selama ini kita telah berhasil menelurkan inovasi-inovasi yang membawa perubahan dan kemajuan? Ataukah sebaliknya, cenderung kembali pada manuver lama yang kita ulang lagi dan lagi, seperti yang sudah-sudah?

Tidak sedikit teman yang mengeluhkan, betapa komitmen untuk berinovasi atau menggarap usulan inovasi yang disepakati di awal tahun, sering patah di tengah jalan. Entah apa sebabnya, yang jelas banyak di antara kita tetap jalan di tempat alias terus melakukan praktek-praktek lama yang sudah basi. Ya, Indonesia memang belum masuk hitungan negara-negara yang inovatif. Padahal, negara tetangga kita seperti Cina, Singapura, India, bahkan Malaysia dan Thailand sudah menelurkan inovasi yang diperhitungkan secara global. Kita memang sudah seharusnya bertanya-tanya, apakah betul orang Indonesia tidak bisa berpikir kreatif dan menelurkan terobosan yang inovatif? Kita tahu begitu banyak anak muda di Indonesia punya potensi besar dan ide cemerlang. Tapi, kapan dan bagaimana kita bisa menembus arena persaingan dan membuat tokoh, perusahaan, lembaga dan negara tiba-tiba menonjol dan diperhitungkan?

Read more...
 
Genjot Kekuatan

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Di masa sekarang, di mana krisis datang silih berganti dan tantangan hadir 24 jam di depan mata, setiap kita tentu butuh menjaga dan menambah kekuatan diri, tim dan organisasi. Meski demikian, kita lihat bahwa banyak orang yang tidak menyadari potensi dan kekuatan dirinya, bahkan tidak merasa penting untuk secara serius menggali dan menemukan kekuatannya. Kita bahkan seringkali terjebak menggali kelemahan-kelemahan kita, membahas kekurangan diri kita, tim bahkan bangsa kita sendiri, sampai-sampai akhirnya menyakini bahwa kita inferior, lemah dan tidak berdaya. Bukankah ini sangat berbahaya?

Dalam sebuah sesi refleksi diri, teman saya yang sangat pandai dan berbakat, sempat tergagap saat diminta untuk menceritakan apa yang sering disebut-sebut  ibunya sebagai kekuatan dirinya. Ternyata, banyak diantara kita yang perlu mencari-cari dulu dalam ingatannya, apa yang pernah atau kalau “beruntung” dikatakan orang tua mereka tentang kekuatannya. Saya jadi teringat ibu saya almarhum, yang memang sangat “strength based”,  berorientasi menegaskan kekuatan dari masing-masing anaknya. Kakak saya yang dilihatnya tidak terlalu kuat dalam analisa, segera dilatih trampil dan cekatan, disekolahkan di SMK, dimagangkan di perusahaan seorang teman, sehingga ia kemudian bisa ‘survive’ bahkan menjadi penyokong kuliah abang dan adiknya. Sementara karena  abang-abang saya sering mengecilkan mental saya, ibu saya sebaliknya, selalu mengatakan saya sebagai seorang pemberani. Saat saya memunculkan ingatan akan kata-kata ibu saya tersebut, segera saya bisa merasakan otot meregang, muka berbinar, enerji merekah, sehingga kita merasa  mempunyai kekuatan dobel dalam sekejap. Hal yang sederhana ini ternyata menjadi sumber kekuatan hidup. Saya sadari kemudian bahwa inilah “life giving forces” yang mendasari segala upaya dalam kehidupan karir saya.

Read more...
 
Bergerak

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Setiap orang memang unik. Sangat menarik bila kita memperhatikan betapa berbeda-bedanya respons tiap orang terhadap perubahan. Ada teman yang dengan cepat masuk ke situasi perubahan, tanpa banyak perlawanan. Dia berpendapat bahwa apa yang dikatakan oleh para senior sebaiknya di ‘terima’ saja, karena toh para sesepuh ini berpengalaman dan sudah banyak makan asam garam.  Perubahan apapun yang harus dia lakukan, dikerjakan dengan sukarela  tanpa banyak perlawanan. Adaptasinya prima, walaupun bisa juga dikatakan teman kita ini layaknya robot, tidak melakukan perubahan atas insiatifnya sendiri.

Sebaliknya, teman yang lebih muda, menggunakan pendekatan yang berbeda bila dihadapkan pada segala macam barang baru, instruksi baru, sistem dan prosedur baru. Ia bisa diam membeku, tidak melakukan apa-apa. Mungkin sebenarnya ingin juga dia demo atau protes, tetapi karena status juniornya, ia memilih diam. Ketika saya tanyakan mengapa dia tidak ‘menurut’ saja bila diberi instruksi, dia menjawab: ”Saya perlu tahu akar permasalahannya , mengapa dan untuk apa saya berubah.” Jadi teman kita ini mempunyai  syarat -syarat yang harus dipenuhi untuk mau berubah. Pantas saja, perubahan sulit terjadi. Untuk ‘membeli’ alasan berubah saja individu ada yang bermasalah.

Read more...
 
Jujur

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Ya, kita semua tentu merasa kehilangan Gus Dur. Berbeda dengan banyak tokoh besar lain, kita mengenal dan mengenang Gus Dur karena sikapnya yang tidak “Ja-im”, tidak banyak basa-basi, apa adanya, transparan. Selain visioner dan kegigihannya mendobrak, bisa jadi sikapnya yang sederhana dan jujur-lah yang membuat beliau menonjol dan menjadikan kita begitu merespek beliau. Dari kesan orang-orang yang dekat dengan beliau, kita bisa melihat bahwa Gus Dur nyata-nyata bukan sekedar berkata jujur, tapi juga mempraktekkan kejujurannya secara konsisten. Mungkin untuk selama-lamanya kita akan mengingat pesan beliau: “Harus jujur...”

Kita sering menganggap jujur adalah sebuah atribut, salah satu aspek kepribadian. Banyak lembaga dan organisasi yang melaksanakan assessment, memberi instruksi pada kami untuk secara mendalam ‘memeriksa’ kejujuran karyawan atau calon karyawannya. Sebagai salah satu aspek kepribadian, kita bisa mengecek kejujuran dengan mengkaitkannya pada tidak bersedia atau tidak pernahnya seseorang melakukan korupsi, kecurangan dalam pekerjaannya. Pertanyaannya, apakah hanya sebatas lingkup itu saja yang dimaksudkan dengan “kejujuran”?

Mungkin sejak kanak-kanak sampai hari ini, sudah ratusan bahkan ribuan kali kita mendengar nasihat untuk bersikap dan bertindak jujur. Pesan ini bisa jadi terlalu sederhana dan bila kita tidak hati-hati akan lewat begitu saja, terlupakan. Namun, bila kita mau hening sejenak dan memikirkannya, nasihat ini bisa jadi akan mengubah seluruh pandangan dan bahkan makna hidup kita. Bukankah kita akan merasa lega luar biasa bila bisa berkata jujur? Bukankah kita menyadari bahwa sikap jujur terkadang mengandung kekuatan internal yang menyebabkan kita tidak tergoyahkan bahkan bisa nekad dan mempunyai sikap ‘nothing to loose’? Bukankah kita baru bisa menepuk dada, menerima diri, mengatasi frustrasi, menghargai anugerah hidup saat kita jujur pada diri sendiri, lingkungan, organisasi dan bangsa? 

Read more...
 
Transparan

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Kebebasan pers yang kita nikmati sekarang, belakangan tak jarang membuat kita terkaget-kaget. Selain terkuaknya berbagai isu dan kontroversi, kita juga disajikan pada ‘reality show’ yang amat menarik, yaitu bagaimana seseorang berespon dan menampilkan citra dirinya. Ada yang bersujud ketika memperoleh jabatan menteri. Ada nenek lugu yang terpana karena tiba-tiba masuk tivi, saat didakwa mencuri 3 biji kopi. Ada yang langsung menghindar saat dihampiri wartawan atau bersikap “Ja-Im” alias “Jaga Image” saat di depan kamera. Ada juga yang begitu berang saat dipersalahkan, terlepas dari apakah kesalahan tersebut dibuatnya secara sengaja ataupun tidak, sesuai prosedur atau melanggar prosedur, fitnah atau sentimen. Bila kita di masa lalu tidak punya banyak kesempatan untuk menelaah dinamika kepribadian seseorang, saat sekarang kita bisa takjub melihat kompleksitasnya.

Transparansi di media, membuat kita jadi mendapat sajian baru yang mengasyikkan, di samping infotainment dan sinetron. Dengan alasan mempertahankan prinsip, kita kerap bisa menyimak sikap ‘keukeuh’ individu. Banyak orang membela diri, bersitegang, bahkan bersumpah, sampai-sampai menjadi kabur batasan antara individualitas, profesionalitas dan tugasnya.Ya, sejak jaman dahulu pun para pahlawan kita siap dipenjara, diasingkan dan disiksa untuk memperjuangkan prinsipnya. Lalu, apa bedanya kekerashatian pahlawan-pahlawan kita dengan individu yang belakangan ini kita lihat ngotot mempertahankan tindakannya? Bagaimana kita mustinya bersikap di jaman yang segala sesuatunya serba terbuka seperti ini?

Read more...
 
Goal

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Ketika seorang teman fesbuk menegur bahwa kami belum pernah mengupas mengenai Goal-setting alias penetapan sasaran, saya berusaha melakukan riset dari pengalaman kerjasama kami dengan beberapa klien. Ternyata, beberapa perusahaan yang saya kenal baik dan sangat sukses, cukup tergagap ketika dalam sebuah ‘workshop’ perlu mengkonkritkan sasaran tahun ke depan mereka. Bahkan, ada direktur perusahaan yang bersikukuh untuk mendengar dahulu ‘angka’ target yang diusulkan anak buah untuk menetapkan target  tahun ke depan. Beliau mungkin tidak menyadari perlunya dasar perhitungan yang dikembangkan dirinya sebagai pimpinan perusahaan, untuk mendapatkan angka estimasi yang cukup akurat, ‘achievable’, tetapi juga menantang bagi anak buahnya.

Di jaman sekarang kita tidak bisa hanya menetapkan target keuntungan atau angka penjualan saja, karena kesuksesan perusahaan sangat tergantung pada pencanggihan proses bisnis, pelayanan pelanggan dan pembelajaran manusianya. Di sinilah letak keberbedaan seorang pemimpin. Pemimpin yang efektif mampu mengatur ambisinya untuk menentukan titik akhir dari lomba di mana timnya berperan serta. Tugasnya adalah menggambarkan “point mark” yang spesifik dan terukur dan dimengerti oleh seluruh anggotanya, bahkan dijadikan obsesi oleh anggota timnya. Nyatanya tidak mudah bagi seorang pemimpin untuk menggambarkan sasaran yang tepat. Baru akhir-akhir ini kita melihat ada menteri yang berani dan jelas-jelas mencanangkan bahwa di tahun 2012, negara kita menjadi negara perikanan.

Bila sasaran sedemikian pentingnya bagi kinerja, bagaimana mungkin banyak organisasi bisa berjalan tanpa sasaran yang yang jelas? Dalam sebuah pertemuan dengan sekumpulan board of directors yang menginginkan dilaksanakannya pengukuran kinerja obyektif, beberapa direktur saling menatap ketika kami sampai pada tugas untuk menetapkan sasaran yang konkrit dan mendetil. “Kalau tidak dibuat, bagaimana mungkin kita bisa ‘menghitung’ kinerja?”, demikian komentar kami. Ternyata banyak pemimpin, yang pandai-pandai sekalipun, segan untuk mencanangkan sasaran secara konkrit dan mendetil. Di satu sisi, mempublikasikan sasaran ini akan mendorong anak buah untuk mengejar sasarannya. Sebaliknya, bila sasaran tidak tercapai, hasilnya pun akan serta-merta menampar muka kita. Ketakutan akan kegagalan inikah penyebab tidak jelasnya sasaran selama ini? Atau semata kurangnya ambisi untuk maju? Atau apakah memang falsafah hidup pemimpin yang memang berkehendak untuk sekedar mengalir sejalan dengan waktu dan situasi?

Read more...
 
Interviu

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Teman baik saya yang akan di interviu untuk sebuah kesempatan kerja baru, mendesak saya untuk memberi contekan dan kiat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pewawancara. “Kalau dijawab apa adanya, bisa-bisa kelemahan saya dipakai sebagai alasan untuk menolak saya. Kalau saya jawab yang bagus-bagus, juga pasti dicurigai berbohong”, begitu keluhannya. Saya yang selalu berada di tengah situasi ini, benar-benar speechless.

Di satu pihak  kita sangat memahami bahwa seseorang pasti ingin lolos seleksi. Di lain pihak, kita bisa merasakan beratnya upaya organisasi untuk menemukan kecocokan pribadi dan kompetensi seseorang dengan jabatan yang akan diisi. Kita semua tahu istilah ‘putting the right man in the right place’, namun kita pun sangat menyadari bahwa keadaan yang ideal ini sulit dicapai. Sebagai pewawancara, kita sangat terbantu bila individu berani untuk transparan, terbuka. Bagi orang yang diwawancara, tidak ada pilihan lain yang lebih baik, kecuali ‘showing your color’ alias menunjukkan karakter asli diri Anda. Dosa besar dalam situasi seleksi adalah kalau dalam waktu  evaluasi yang begitu singkat, justru individu tidak berkesempatan menampilkan keasliannya sehingga si pewawancara pun tidak bisa menangkap kekuatannya. ‘Be Yourself’ bagaimana yang perlu kita tampilkan?

Read more...
 
Greget

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Di jaman sekarang tampaknya kita semakin terbiasa dengan keadaan ‘mengambang’. Banyak perusahaan terus berjalan tanpa adanya keputusan yang tegas mengenai strategi perusahaan. Keputusan kerap digantung, banyak kasus tidak tuntas sampai ke ujung, kebijakan yang tidak jelas dibiarkan terus diinterpretasikan secara berbeda. Kita juga bisa kerap melihat standar ganda, mengenai kebenaran , kejujuran  dan  profesionalitas. Bahkan, komitmen berkeluarga pun kini kerap ‘digantung’, alias setengah kumpul kebo.

Banyak orang mengatakan bahwa dunia memang sudah berubah. Orang sudah menjadi multi
-tasker  tulen,  tidak mungkin fokus, tidak mungkin mengerjakan suatu proses benar-benar urut sesuai S.O.P ( standard operating procedure). Lalu, apakah kemudian semua hal menjadi relatif? Semua serba ‘tergantung situasi?’. Padahal, begitu kita menyerahkan pilihan solusi tergantung situasi, kemungkinan besar ‘action’ solusi tertahan dan bisa jadi tidak dilaksanakan. Bila dalam banyak situasi, kita beramai-ramai tidak berani mengambil sikap, bayangkan bagaimana masyarakat kita bisa berkembang? Kita harus sadar bahwa dalam  mengambil keputusan itu pasti ada resiko yang harus ditanggung, ongkos yang harus dibayar bahkan kadang-kadang berupa kesulitan yang harus diderita. Tampaknya tidak ada jalan lain, bila kita memang mau bertransformasi.  Namun, mengapa kebanyakan  kita seolah loyo, tidak bertenaga  mengatasi situasi?

Read more...
 
Harga Diri

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Meski kita semua sepakat bahwa harta dan kedudukan bukan jalan satu-satunya untuk mendapatkan respek dari orang lain, kita juga semakin melihat bahwa materi memang sudah jadi tolok ukur untuk banyak situasi. Seakan menjadi sebuah pelecehan sosial dan psikologis atas harga diri kita, bila kita tidak mengikuti arus gaya hidup di masyarakat. “Kan tidak enak loh, kalau semua teman pakai tas puluhan juta, sementara kita satu-satunya yang tidak”, ungkap seorang ibu pejabat. Kita juga kerap mendengar pegawai berkomentar:”Nyatanya memang tidak cukup ya mengandalkan gaji saja. Kita memang terpaksa mencari obyekan dari sumber lain.” Situasinya sekarang, kita bisa menyaksikan betapa orang bisa lebih takut miskin, lebih mati-matian menimbun harta, menjaga kedudukan dan mengejar pangkat, ketimbang memperjuangkan hati nurani, kekayaan jiwa, bahkan kepentingan negara.

Setiap kita bisa saja terjebak dalam situasi dilematis untuk menjaga “harga diri” ini. Pertanyaannya: Maukah Anda dibayar untuk menjelekkan nama orang lain? Maukah Anda menerima uang bila nama keluarga dipermalukan? Maukah Anda melanggar kode etik profesi demi uang? Di sisi lain, kita juga bisa melihat dan bertanya-tanya: Demi apa prajurit kita berjuang mempertahankan perbatasan Indonesia dan memperjuangkan Timor Timur sampai kehilangan anggota tubuhnya, bahkan gugur di medan laga? Mengapa ada pegawai yang jujur sampai akhir karirnya dan membiarkan anak istrinya hidup dengan uang belanja yang pas-pasan? Mengapa ada orang tidak takut dipenjara, ditangkap, kalau yakin tidak salah? Mengapa ada orang yang tetap pada pendiriannya dan kukuh akan keputusan jabatannya walaupun diiming-imingi segelontor uang? Apa beda orang seperti Nelson Mandela dengan kita-kita yang biasa-biasa ini?

Read more...
 
Mari Tersenyum

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Ini adalah masa-masa sulit. Angka pengangguran bertambah. Lalu lintas semakin tidak kondusif. Polusi semakin pekat. Banjir mengancam. Otoritas tidak bisa dijadikan pegangan. Kondisi ekonomi sulit diprediksi. Kebenaran semakin tidak terang. Ketidaksiapan menghadapi bencana, membuat kita menyaksikan semakin banyak orang menderita. Ini benar benar ‘crunch time’ . Banyak orang stres. Seorang ahli manajemen, Gerben A. van Kleef menyatakan bahwa ‘mental fatique’ atau kelelahan mental seorang pemimpin dalam masa-masa sulit, sering justru makin menyebabkan  terperosoknya semangat  orang di sekitar kita, anak buah atau bawahan lebih dalam.

Sekarang memang saatnya menentukan sikap dan tindakan. Inginkah kita terus meratap, menyalak dan meraung? Seorang teman, dalam keadaan Negara yang galau ini malah mengirimkan pesan teks ke saya: “Enjoy your moments of truth”. Kalimat sederhana itu seketika membuat saya tergugah. “Bukankah kita masih bisa mensyukuri banyak hal, mengupayakan banyak hal, mempertimbangkan pelanggan yang menunggu servis kita, memuaskan ‘stakeholders’ kita, membangun generasi muda kita, melakukan “coaching”, dan begitu banyak pe –er di depan mata yang tidak bisa kita hindari? Kita pun bisa bertanya sendiri : “Apa yang kita dapatkan dengan bersungut-sungut? “,“Apa dampaknya kalau kita terus meratap dan meraung?”. “Sadarkah kita bahwa emosi menular dan anak buah atau bawahan bisa jadi ketularan turun semangat?” Seorang atasan atau pemimpin yang baik, perlu memiliki kemampuan  menghidupkan semangat  tim dan bawahannya  dalam keadaan segalau dan sekritis apapun.  Ingat bahwa emosi orang di sekitar kita adalah tanggung jawab kita juga.

Read more...
 
Otak dan Watak

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Saya terinspirasi oleh Profesor Arief Rachman, begawan pendidikan Indonesia. Dalam suatu acara di sebuah stasiun televisi baru-baru ini, beliau dengan cantik menyebutkan “Otak dan Watak” sebagai kriteria pejabat atau eksekutif. Dalam audisi menteri baru-baru ini, sering kita dengar ulasan mengenai pejabat-pejabat yang dikenal ‘expert’ di bidangnya. Bila ditinjau sekelebatan, segera saja kita akan terjebak pada kecerdasan, juga fenomena IQ (intelligent Quotient). Singkat kata, disimpulkan bahwa pejabat, eksekutif ataupun pemimpin yang ber -IQ tinggi adalah expert di bidangnya. Dengan IQ tinggi ia diprediksi mampu  menangani masalah pada satuan kerja yang dipimpinnya. Cukupkah itu?

Kita sama-sama menyadari bahwa dalam  mengurus sebuah departemen, direktorat ataupun divisi  di masa sekarang sudah tidak lagi kita bisa mengandalkan kapasitas birokratis dan politis  saja. SOP (standard operating Procedure) saja, jelas-jelas tidak cukup. Masalah-masalah yang dihadapi saat ini sering tidak masuk akal, bahkan tidak ada dalam pembahasan kasus di universitas Harvard sekalipun.  Etos kerja, sorotan dunia, perubahan, ke’bawel’an media serta sikap kritis masyarakat, otomatis sudah menjadi barometer kinerja kita, sehingga tuntutan ekspertis, kepintaran dan kecermatan tidak lagi bisa mengandalkan kecerdasan biasa.

Read more...
 
Harapan

 Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Membaca headline Kompas, 21 oktober: “Indonesia Melangkah Maju”, seketika kita serasa terpacu, ada rasa bangga dan bahkan terasa energi ingin ikut maju. Namun, saat melanjutkan dengan subjudul yang bertuliskan ‘memberantas kemiskinan……dst”, kita pun langsung teringat dan  membenarkan dalam hati realita dihadapan mata, mengenai angka kemiskinan, tingkat korupsi dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menyurutkan harapan.

Pasang surutnya harapan bisa sangat internal dan individual, sebagaimana negatif-positifnya kita memandang dunia. Namun tidak dipungkiri bahwa energi kita juga dipengaruhi oleh keadaan serta orang-orang di sekitar kita. Kita tentu pernah mengenal, seseorang yang bila ia memasuki ruangan, ruangan terasa hidup. Bila ia mengirimkan email atau sms, kita bisa merasakan bobot kekuatan di dalamnya. Kemampuan individu untuk membangkitkan energi dari orang di sekitarnya ini, sering terlupakan dalam aspek kepemimpinan, padahal kekuatan ini sangat diperlukan untuk mendorong dan menjaga stamina dan harapan kelompok dari hari ke hari. Bayangkan seorang pimpinan kelompok yang bertugas membawa kelompoknya mengarungi perjalanan yang sulit dan membahayakan. Tentu saja ia harus selalu menemukan jalan sambil menjaga semangat kelompoknya.

Read more...
 
Esensi

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Dalam suatu sesi ‘brainstorming’ di sebuah kelas pelatihan, peserta segera mengeluarkan ide-ide dan pendapatnya untuk membahas cara-cara penanggulangan ‘chaos’. Selang beberapa lama, seseorang bertanya: “Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ‘chaos’?”. Segera semua orang menengok ke arahnya. Ada yang melontarkan pandangan aneh, seolah mempertanyakan “Kok, tidak mengerti istilah yang begitu populer?”. Ada juga yang mencibir, seolah bertanya, “Dari tadi ke mana saja...”. Tapi, ternyata, tidak seorang pun kemudian bisa dengan lancar mendefinisikan arti kata itu dengan tepat dan memuaskan. Ternyata, dalam banyak situasi, orang sering sudah menyambar dan berkomentar terhadap suatu isu atau masalah tanpa mencocokkan asumsi, menyamakan persepsi mengenai istilah-istilah yang sedang dibicarakan.

Mendefinisikan kata, apalagi sebuah problem, ternyata tidak mudah. Padahal,  banyak ahli yang mengatakan bahwa begitu kita bisa mendefinisikan sebuah problem dengan tepat,  kita sudah 50% menemukan solusinya.Tidak heran bila Einstein mengatakan: “ if I had one hour to save the world I would spend fifty-five minutes defining the problem and only five minutes finding the solution”. Sayangnya, dalam masyarakat kita dan kehidupan  yang  serba mau cepat ini, kita tidak banyak melihat contoh-contoh pendefinisian problem dengan cermat. Banyak masalah yang mengambang tanpa penyelesaian, karena tidak terfokusnya permasalahan. Misalnya saja, mengapa Situ Gintung jebol? Situ Gintung itu sebuah apa? Bagaimana dibuatnya? Bagaimana pemeliharaannya? Apa ancamannya? Dalam pemberitaan, kita pun kadang sulit mencerna, kunci permasalahan dari suatu situasi. Padahal, pemahaman terhadap inti masalah ini sebenarnya perlu berkembang bukan saja dibenak para ahli, tapi juga di benak masyarakat yang sudah bersekolah, sehingga intelektualitasnya bisa membawanya ke arah solusi lingkungan juga. Dengan tidak jelasnya permasalahan, masyarakat yang sadar pun bisa hanya diam saja, ketika menyaksikan pembahasan masalah besar yang  pemecahannya melenceng jauh dari persoalan semula sehingga membawa keluaran yang keluar jalur. Bukankah hal ini sangat membahayakan?

Read more...
 
Bobot

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Dalam mencari pasangan hidup, tentunya sering kita dengar nasihat orang tua, untuk memperhatikan “bibit”, “bebet” dan “bobot”. Dalam hal ini, bobot bisa kita artikan sebagai kepribadian, kemapanan dan kepandaian calon pasangan. Dalam organisasi dan ilmu ‘performance management’, bobot pun sudah lazim menjadi kriteria penting dalam menentukan karir, golongan, bahkan gaji seseorang. Biasanya menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, organisasi dan para manajer mulai sibuk menentukan dan menghitung bobot karyawan, baik bobot kompetensi, kontribusi dan komitmennya dalam pekerjaan dan terhadap tim maupun organisasi.

Saat seseorang mempertanyakan kapan dia akan diangkat, kapan dia menjabat dan mengharapkan ketetapan jalur karir yang jelas, sebenarnya di saat inilah individu perlu menimbang dan mengukur-ukur dirinya, apakah ia terhitung “berbobot” dalam organisasi? Meskipun semua orang tentu saja ingin disebut berbobot,  ternyata memperkuat bobot tidak semudah membalik telapak tangan, terutama kalau kita sudah lepas dari dunia pendidikan, yang pada dasarnya memberi bobot pada pengetahuan kita.

Seorang teman, terheran-heran melihat calon-calon board of directors di  sebuah perusahaan yang muda-muda dan cantik—cantik. Seolah mempertanyakan apakah teman-teman  yang cantik itu, berbobot juga.  Dari mana sebetulnya kita bisa menilai berbobotnya seseorang? Dalam situasi interpersonal yang lebih kompleks,  bobot seseorang biasanya sangat terasa pada ‘impact’ yang ia buat. ’Impact’ itu bisa saja berasal dari kepribadian yang menawan, dari pemikiran-pemikiran cemerlang yang diekspresikan, dari pertanyaan pertanyaan yang tajam, dari keberanian yang ditampilkan, dari beratnya tanggung jawab yang bersedia dia pikul, sehingga mendatangkan pengakuan dari sekitarnya. Pertanyaan kita tentu saja, apa yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ‘bobot’?

Read more...
 
Habitat

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Lima belas atau sepuluh tahun lalu, begitu lazim senioritas dipakai sebagai dasar untuk menduduki jabatan strategis, naik pangkat dan naik gajinya seseorang. Namun sekarang, bila ada organisasi yang menaikkan jabatan seseorang semata karena lamanya masa kerja, tentu saja bisa kita katakan ketinggalan jaman, bahkan membahayakan bagi organisasi. Konsep ‘Performance & Competency Based’, kita tahu, memang sangat masuk akal. Namun, merubah kebiasaan lama  tentu saja menjadi tantangan tersendiri. Di sebuah lembaga tinggi negara, program implementasi ‘performance based culture’ ini membuat mayoritas karyawan resah dan merasa terancam. Bagaimana tidak, karyawan sudah terbiasa naik pangkat secara otomatis.Alhasil,  upaya untuk mendorong karir pun lebih banyak diarahkan pada hubungan baik dengan atasan, berpolitik ataupun meraih  gelar pendidikan lebih tinggi.

Banyak yang berasumsi bahwa situasi ini hanya terjadi di lembaga milik pemerintah. Bagaimana dengan perusahaan swasta? Kita bisa lihat bersama bahwa banyak sekali perusahaan swasta yang diam-diam dengan cepat sudah memasuki fase ‘mapan’, mencetak laba yang lumayan dan bisa menikmati kemajuan perusahaan tanpa harus susah payah memeras keringat lagi. Terlepas dari usia karir ataupun usia seseorang, seorang profesional bisa mudah terlena dan mulai tidak memacu dirinya untuk berkembang lagi. Bagaimana kalau hal ini terjadi pada kebanyakan orang? Tentu saja kita akan menyaksikan kultur perusahaan yang berkembang tidak sehat, tidak produktif, suasana kerja pun biasanya tidak nyaman lagi. Di tingkat organisasi, hal yang paling nyata terlihat adalah lemahnya pengembangan produk dan sistem baru sebagai hasil inovasi. Sementara, di tingkat individu, biasanyanya orang-orang sibuk berpolitik, asyik mencari sasaran gosip, suka ‘cuci tangan’ dan merasa aman untuk tidak terlibat.
Di sebuah perusahaan terdengar keluhan :”Jenjang kariri di perusahaan ini tak jelas. Orang tidak tahu kapan dia naik pangkat”. Padahal di perusahaan tersebut sangat terlihat kesulitan orang untuk mengambil tantangan yang lebih berat, pekerjaan yang lebih menantang, apalagi  mau berkorban untuk perusahaan.  Akankah kita membiarkan wabah ini tumbuh subur dan menggerogoti ‘habitat’ kita?

Read more...
 
Seribu Indera

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Saya cukup surprise dengan paparan seorang pimpinan lembaga tinggi negara yang ketika ditanyai mengenai kepemimpinan justru menekankan pentingnya ‘rasa’ dalam memimpin. Ya, selama ini, sadar tidak sadar, kita memang terkadang mengabaikan dan mengesampingkan penajaman ‘rasa’ atau ‘sensing’ dan memandang rendah kontribusi ‘rasa’ terhadap keberhasilan seseorang dalam karir dan pekerjaan. Kita tahu, seseorang yang diproyeksikan untuk naik jabatan, biasanya akan menerima pembekalan dan pelatihan intensif terkait prosedur, manajemen,  analisa dan problem solving, namun umumnya hanya sedkit menyentiuh ‘rasa’. Padahal, bisa kita bayangkan betapa sulitnya seseorang untuk bisa berhasil memimpin bila ia tidak ahli mengelola ‘rasa’. Bukankah kita lihat para anggota DPR pun terkadang dikritik karena mengeluarkan kebijakan yang tidak tepat sasaran, mengeluarkan pernyataan yang kurang sensitif dan diniliai kurang punya ‘rasa’ dalam melihat dan menyikapi permasalahan yang ada?

Saya jadi terpikir, betapa ruginya, kalau rasa atau ‘sensing’ yang kita fungsikan baru sebatas ‘panca indera’ saja: cium, dengar , kecap, lihat, raba? Bagaimana dengan intuisi, firasat, simpati, empati, rasa percaya dan tidak percaya, yang kesemuanya melibatkan ‘rasa’? Bisakah ini semua kita golongkan sebagai indera keenam? Bukankah ‘rasa’ ini, seperti halnya panca indera kita, berfungsi sebagai antena atau radar, modal kita mengambil tindakan? Tepat sekali bila dalam lembaga-lembaga yang berkegiatan ‘putar otak’ intensif, senantiasa diingatkan untuk menggalakkan penggunaan perasaan  ini untuk ‘mengelola manusia’ dan berpikir kreatif.

Read more...
 
Budaya

Image

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Ribut-ribut mengenai produk budaya yang diaku-aku oleh negara lain tampaknya tidak berhenti sampai di sini. Pertanyaannya: Apakah upaya mempatenkan produk budaya benar-benar bisa menjawab masalah kita secara efektif? Bayangkan untuk satu daerah saja, berapa jumlah tarian dan lagu rakyat yang ada? Berapa banyak pakaian tradisional per pulau? Apa saja makanan yang betul-betul khas daerah tertentu? Dengan begitu luasnya wilayah negara kita dan jumlah pulau yang lebih dari 17.500 buah, bagaimana kita menjaga budaya dari berbagai suku bangsa, adat kebiasaan, kepercayaan serta keyakinan yang berbeda-beda? Belum lagi bila kita memikirkan masalah kebangsaan dan patriotisme.

Saya merasa tertampar, menyaksikan sebuah sekolah berafiliasi internasional yang justru memulai setiap kegiatan formalnya dengan berdiri tegak dan khidmat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bagaimana dengan kita? Banggakah kita saat berdiri dengan sikap sempurna dan hormat bendera? Sudahkah kita menjaga rasa kebangsaan putra putri kita dengan benar? Apakah anak cucu kita masih hafal luar kepala dan fasih menyanyikan 7 lagu wajib negara kita? Kalau keadaannya demikian, bagaimana nantinya bila negara tetangga menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” sebagai “jingle” pariwisatanya?

Read more...
 
 
2++
/images/spacer.gif" WIDTH=34 HEIGHT=1 ALT="">